Gue mulai sadar ada satu hal yang aneh waktu ngobrol sama temen sesama freelancer. Hampir semua dari kita punya cerita yang mirip soal keluarga. Bukan soal uang, bukan soal waktu yang sempit. Tapi soal batas yang pelan-pelan hilang tanpa kita sadari.
Pekerja lepas itu spesies yang aneh. Kita kerja dari rumah, dari kafe, dari mana saja. Jam kerja nggak ada yang ngatur. Dan justru di situlah masalahnya mulai muncul, terutama soal hubungan dengan orang tua dan anak.
Baca juga: Jarak 800 Kilometer, Cara Aku Belajar Jadi Anak (dan Calon Orang Tua)
Kerja dari Rumah Bukan Berarti Ada Buat Keluarga
Ini yang paling sering disalahpahami orang di luar lingkaran kita. Mereka pikir karena kita di rumah sepanjang hari, kita otomatis lebih dekat dengan anak dan lebih sering bantu orang tua. Kenyataannya? Sering kebalikannya.
Gue pernah ngalamin fase di mana anak gue nanya, "Ayah kerja terus ya?" padahal gue ada di rumah, di ruangan sebelah, sepanjang hari. Dia nggak salah. Secara fisik gue ada, tapi kepala gue di laptop. Dan anak kecil itu nggak bodoh, mereka bisa bedain mana yang hadir beneran dan mana yang cuma raga-nya ada.
Yang lebih parah, orang tua kita juga sering nggak paham. Buat mereka, kalau kita di rumah, berarti kita lagi nggak kerja. Jadi telepon tengah hari, minta ditemenin ke pasar, atau ngajak ngobrol panjang pas deadline mepet. Kalau kita tolak, kita yang kelihatan nggak berbakti. Kalau kita turutin, kerjaan berantakan.
Jebakan "Kamu Kan Fleksibel"
Frasa ini racun. "Kamu kan waktunya fleksibel, jadi bisa antar anak les." "Kamu kan bisa kerja kapan aja, jadi tolong urus ini dulu." Lama-lama kita jadi orang yang selalu tersedia buat semua orang, kecuali buat diri sendiri.
Masalahnya, fleksibilitas itu pedang bermata dua. Di satu sisi kita bisa atur waktu buat nemenin anak atau jenguk orang tua di jam yang sepi. Di sisi lain, nggak ada lagi yang namanya "jam pulang kerja". Semua jam bisa jadi jam kerja, dan semua jam juga bisa jadi jam keluarga. Ujung-ujungnya dua-duanya setengah-setengah.
Anak yang tumbuh dengan orang tua yang selalu "ada tapi nggak ada" belajar satu hal yang salah: bahwa perhatian itu sesuatu yang harus diperebutkan.
Gue nggak mau anak gue tumbuh dengan pemahaman itu. Makanya gue mulai bikin aturan aneh yang dulu kelihatan lebay. Jam 4 sampai 6 sore, laptop tutup. Titik. Nggak peduli ada klien yang chat atau email masuk. Kalau ada yang urgent, gue kasih tahu di awal bahwa gue punya jeda.
Yang Jarang Dibahas: Anak Meniru Cara Kita Menghargai Waktu
Ini bagian yang beneran jarang orang omongin. Anak itu belajar soal batas bukan dari apa yang kita omongin, tapi dari apa yang mereka lihat tiap hari. Kalau mereka lihat kita selalu jawab chat klien tengah malam, selalu buka laptop pas makan bareng, selalu bilang "bentar ya" tapi bentarnya dua jam, mereka akan menganggap itu normal.
Lalu waktu mereka besar dan punya pekerjaan sendiri, mereka bakal jadi orang yang nggak bisa bilang tidak. Bukan karena kita nggak pernah ngajarin, tapi karena kita nggak pernah mempraktikkan apa yang kita ajarkan.
Gue belajar ini dari bokap gue, yang bukan freelancer tapi selalu bawa kerjaan ke rumah. Dulu gue kesel banget. Sekarang gue ngerti kenapa dia begitu, dan gue sadar gue lagi ngulang pola yang sama kalau nggak hati-hati.
Hal kecil yang bisa mulai kamu coba minggu ini
- Tentukan satu jam "mati total" tiap hari. Nggak ada laptop, nggak ada HP buat kerja. Bilang ke klien di awal, bukan mendadak.
- Bikin kesepakatan sama orang tua soal kapan kamu bisa dihubungi santai dan kapan harus urgent doang. Ini kelihatan sepele, tapi ngurangin drama keluarga lumayan banyak.
- Kalau lagi sama anak, taruh HP di ruangan lain. Bukan silent mode, tapi beneran jauh dari jangkauan. Silent mode itu jebakan, tangan tetap gatel buat ngecek.
- Jangan janjiin waktu yang nggak bisa kamu tepati. Lebih baik bilang "nanti malam habis maghrib" dan beneran datang, daripada bilang "bentar ya" berkali-kali.
Orang Tua Kita Juga Butuh Batas, Bukan Cuma Perhatian
Ini yang gue pelajari belakangan dan lumayan bikin gue kaget. Kita sering fokus ke anak, padahal orang tua juga bagian dari persamaan ini. Mereka sering jadi pihak yang paling dirugikan waktu kita kerja lepas, karena mereka yang paling sering "dikorbankan" waktunya dengan alasan "nanti aja, masih ada waktu".
Padahal waktu mereka nggak sebanyak yang kita kira. Dan yang mereka butuhin bukan cuma kehadiran fisik kita yang setengah-setengah sambil ngecek HP. Mereka butuh perhatian yang utuh, walau cuma setengah jam.
Gue mulai nerapin satu hal sederhana: telepon orang tua di jam yang sama tiap hari, dan pas telepon, gue beneran nggak buka tab lain. Kadang cuma 10 menit. Tapi 10 menit yang utuh itu rasanya beda banget sama satu jam sambil multitasking.
Kerja lepas itu privilege, kita bisa atur hidup sendiri. Tapi privilege yang nggak diatur ya jadi kekacauan. Batas bukan tembok yang misahin kita dari keluarga. Justru batas itu yang bikin waktu bareng keluarga jadi punya arti, bukan sekadar sisa dari waktu kerja yang nggak pernah kelar.
Kalau kamu merasa akhir-akhir ini selalu ada tapi nggak pernah beneran hadir, mungkin bukan kurang waktu. Mungkin cuma kurang batas.