Gue pernah ngobrol sama seorang desainer grafis lepas di kafe, jam sebelas siang, di sela-sela dia nunggu revisi klien. Dia cerita soal anaknya yang di Jawa Tengah, sementara dia ngekos di Jakarta. Kalimat yang nempel di kepala gue sampai sekarang: "Yang bikin capek bukan kerjaannya. Yang bikin capek itu perasaan tiap malam, kayak gue lagi ninggalin sesuatu yang nggak bisa gue ulang."
Nah, itu dia hal yang jarang banget dibahas. Kalau orang ngomongin pekerja lepas dan keluarga, biasanya yang muncul soal penghasilan nggak tetap, soal nggak ada THR, soal nggak ada BPJS. Semua itu valid. Tapi ada satu hal yang hampir nggak pernah masuk hitungan: biaya emosional dari mengasuh anak secara nggak penuh. Dan buat kita yang kerja lepas, biaya itu sering datang dalam bentuk yang aneh-aneh.
Rasa bersalah yang datangnya bukan dari orang lain
Ini yang gue rasa paling jarang dibicarakan. Kita sering membayangkan tekanan soal pengasuhan itu datang dari luar: omongan tetangga, pertanyaan keluarga besar, komentar di grup WA. Padahal buat banyak pekerja lepas, tekanannya justru datang dari dalam kepala sendiri, dan bentuknya lebih halus tapi lebih lengket.
Contoh kecil. Kamu lagi ngerjain proyek, deadline jam dua pagi. Di sela-sela nunggu file ke-render, kamu buka galeri HP. Ada video anak kamu jatuh dari sepeda, ketawa, terus lari ke arah kamera. Kamu nonton tiga kali. Terus kamu balik ke laptop, dan tiba-tiba ngerasa bersalah karena tadi sempat lupa kalau kamu punya anak.
Baca juga: Tiap Pagi Saya Lihat Hal Kecil yang Jarang Disadari Pensiunan soal Cucu
Rasa bersalah kayak gini nggak kelihatan di rekening. Nggak kelihatan di portofolio. Tapi dia ngurangin energi, bikin kamu susah fokus, dan kadang bikin kamu kerja lebih lama dari yang seharusnya karena kamu pengen "menebus" sesuatu yang sebenarnya nggak bisa ditebus pakai jam kerja.
Kerja lepas ngasih kamu kebebasan waktu. Tapi kebebasan itu sering berubah jadi jebakan: karena kamu bisa kerja kapan saja, kamu jadi kerja sepanjang waktu, termasuk di jam yang seharusnya buat anak.
Yang nggak kelihatan di foto profil: jam kerja yang bocor ke waktu keluarga
Ada satu ilusi yang gue alami sendiri waktu awal-awal kerja lepas. Dulu gue pikir, "Enak ya kerja dari rumah, bisa main sama anak kapan aja." Kenyataannya? Kamu ada di rumah, tapi kepala kamu ada di dokumen brief. Anak ngajak main, kamu jawab "sebentar ya," dan "sebentar" itu berubah jadi satu setengah jam.
Ini yang gue sebut kehadiran setengah-setengah. Secara fisik kamu ada. Secara mental, kamu nggak. Dan anak-anak, terutama yang masih kecil, itu radar-nya tajam. Mereka nggak bisa bilang "Ayah/Ayah nggak fokus," tapi mereka bisa ngerasain. Biasanya hasilnya muncul dalam bentuk yang bikin kita bingung: anak jadi rewel, anak jadi cari perhatian dengan cara yang bikin kesal, anak tiba-tiba nggak mau lepas dari kamu.
Banyak yang mengira itu anak lagi manja. Padahal sering kali itu cara anak bilang, "Aku butuh kamu yang utuh, bukan kamu yang setengah."
Satu hal kecil yang lumayan ngubah cara gue kerja
Gue mulai nerapin hal yang sederhana banget: satu blok waktu, satu peran. Kalau lagi jam kerja, ya jam kerja. HP ditaruh jauh, notifikasi dimatiin, anak tahu bahwa ini waktunya Ayah/Ibu kerja. Tapi begitu blok itu selesai, laptop ditutup beneran. Bukan cuma di-minimize. Ditutup.
Kedengarannya sepele, tapi efeknya besar. Anak jadi punya kepastian. Mereka nggak perlu rebutan perhatian, karena tahu kapan mereka dapat giliran penuh. Dan buat kamu, ada batas yang jelas antara "lagi kerja" dan "lagi sama anak" — dua hal yang kalau dicampur terus-terusan, dua-duanya jadi nggak beres.
Soal uang yang dikirim pulang, dan hal yang nggak bisa ditransfer
Buat pekerja lepas yang jauh dari anak, transfer bulanan itu semacam bukti cinta yang paling gampang diukur. Kamu bisa lihat angkanya, kamu bisa lihat bukti transfernya, kamu bisa ngerasa "setidaknya aku udah ngelakuin sesuatu."
Tapi ada satu hal yang nggak bisa ditransfer, dan ini yang sering kita diamkan: kehadiran yang bisa diingat anak. Bukan kehadiran dalam arti tiap hari, karena itu memang nggak selalu mungkin. Tapi kehadiran yang punya bentuk, yang bisa diceritakan ulang.
Gue kenal seorang editor video yang kerja di Bali sementara anaknya di Medan. Tiap Sabtu pagi, dia bikin panggilan video yang isinya bukan sekadar "udah makan belum." Mereka baca buku bareng lewat layar, atau anaknya cerita satu kejadian minggu itu, dan dia benar-benar dengerin, nggak sambil buka laptop. Dia bilang, "Aku nggak bisa hadir tiap hari. Tapi aku mau dia punya satu memori tiap minggu yang dia tahu itu khusus buat dia."
Itu bukan solusi sempurna. Nggak ada yang namanya solusi sempurna buat situasi kayak gini. Tapi setidaknya, itu sesuatu yang bisa dipegang.
Buat kamu yang lagi di posisi ini: beberapa hal yang mungkin membantu
Gue nggak mau nulis daftar panjang yang akhirnya cuma jadi teori. Jadi ini cuma beberapa hal yang menurut gue realistis, berdasarkan cerita-cerita yang gue denger dari teman-teman pekerja lepas:
- Bikin ritual kecil yang konsisten. Nggak perlu mahal. Satu panggilan video tiap minggu di jam yang sama, satu voice note tiap malam sebelum tidur, satu kiriman buku tiap bulan. Yang penting konsisten, karena anak mengingat pola, bukan nominal.
- Jangan pakai uang sebagai pengganti rasa bersalah. Ini jebakan yang halus. Beli mainan mahal karena nggak sempat hadir itu nggak menyelesaikan apa-apa. Anak bisa jadi senang sebentar, tapi yang dia butuh tetap sama.
- Bicara jujur ke pasangan atau pengasuh. Kalau kamu jauh, orang yang ada di dekat anak itu jadi mitra kamu, bukan cuma pengganti. Ceritain apa yang kamu rasain, dengerin apa yang mereka lihat. Jangan cuma jadi pengirim uang yang nggak tahu apa-apa soal hari-hari anak.
- Kasih ruang buat rasa bersalahnya, tapi jangan biarin dia yang nyetir. Rasa bersalah itu wajar. Kalau kamu nggak pernah ngerasain, malah aneh. Tapi kalau dia yang ngatur semua keputusan kamu, kamu bakal capek terus dan nggak ada yang jadi lebih baik.
Gue nggak akan pura-pura punya jawaban lengkap soal ini. Sampai sekarang, tiap kali gue lihat teman pekerja lepas yang harus milih antara proyek bagus dan pulang ke kampung, gue tetap ngerasa nggak nyaman. Karena pilihannya memang nggak pernah seimbang.
Tapi satu hal yang gue yakin: hal-hal yang jarang dibahas justru yang paling perlu dibicarakan. Selama kita cuma ngomongin kerja lepas soal penghasilan dan klien, kita bakal terus ngerasa sendirian di bagian yang paling berat. Padahal bagian itu nyata, dan banyak orang lain juga lagi ngejalaninnya diam-diam.
Jadi kalau kamu hari ini lagi di kos, lagi nunggu revisi, dan tiba-tiba kepikiran anak kamu di kampung — itu bukan tanda kamu gagal. Itu tanda kamu peduli. Dan peduli, meskipun nggak selalu kelihatan di rekening, itu tetap sesuatu yang layak dihitung.