Gue anak rantau. Sudah tiga tahun ngekos di kota yang jaraknya sekitar 700 kilometer dari rumah. Awal-awal merantau, gue masih rajin telepon ibu tiap malam. Tapi lama-lama, kesibukan kuliah, organisasi, dan circle baru bikin frekuensi telepon itu turun drastis. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Kalau lagi sibuk banget, ya cuma chat singkat "udah makan belum?" di grup keluarga.
Terus sekitar sebulan lalu, ada kejadian yang bikin gue mikir. Temen sekamar gue dapat kabar bapaknya masuk rumah sakit. Dia nangis semalaman, dan besoknya langsung cari tiket pulang. Di situ gue sadar, gue nggak pernah tahu kondisi orang tua gue secara detail. Gue cuma tahu mereka "baik-baik aja" karena itu yang selalu mereka bilang.
Jadi gue bikin tantangan buat diri sendiri: sebulan, telepon orang tua tiap hari. Bukan cuma chat, tapi telepon beneran. Minimal 10 menit. Nggak peduli gue lagi sibuk atau capek.
Kenapa Telepon Tiap Hari Itu Ternyata Berat di Awal
Jujur, hari-hari pertama rasanya canggung. Biasanya gue telepon kalau ada yang mau gue omongin. Sekarang gue telepon tanpa topik jelas. Obrolan pun jadi kaku.
"Halo, Bu."
"Eh, ada apa Nak?"
"Nggak ada apa-apa, cuma pengen telepon aja."
Diam beberapa detik. Ibu gue kayak bingung mau ngomong apa. Gue juga bingung. Akhirnya obrolan cuma muter di sekitar "udah makan belum", "kuliah gimana", "jangan lupa istirahat". Selesai 5 menit, telepon ditutup.
Tapi anehnya, setelah seminggu, obrolan itu mulai mengalir. Ibu mulai cerita hal-hal kecil. Tetangga yang baru punya cucu. Tanaman cabai di belakang yang tiba-tiba mati. Bapak yang mulai belajar main smartphone lebih serius. Hal-hal yang kalau gue cuma chat, nggak akan pernah gue dengar.
Rupanya yang bikin jauh itu bukan jarak, tapi kebiasaan nggak cerita.
Yang Berubah dari Cara Gue Lihat Orang Tua
Sebelum tantangan ini, gue sering mikir kalau orang tua itu "udah selesai" urusannya. Maksud gue, mereka udah dewasa, udah berpengalaman, jadi ya nggak butuh gue banget. Gue fokus aja sama hidup gue sendiri di kota.
Ternyata salah besar.
Dari telepon-telepon itu, gue baru sadar kalau orang tua juga punya kekhawatiran yang mereka simpan sendiri. Ibu pernah cerita kalau dia susah tidur mikirin biaya kuliah gue semester depan. Bapak pernah bilang dia capek kerja, tapi nggak mau ngeluh karena takut gue jadi beban pikiran.
Hal-hal kayak gini nggak akan pernah muncul kalau gue cuma tanya "gimana kabarnya?" lewat chat. Mereka selalu jawab "baik". Titik. Nggak ada lanjutannya.
Gue jadi ingat waktu kecil dulu. Ibu selalu sabar jawab semua pertanyaan gue yang kadang nggak masuk akal. "Bu, kenapa langit warnanya biru?" atau "Bu, kalau semut jatuh dari pohon, sakit nggak?" Sekarang giliran gue yang harus sabar dengerin cerita mereka, sekecil apa pun itu.
Belajar Jadi Pendengar yang Lebih Baik
Satu hal yang gue pelajari dari sebulan ini: mendengarkan itu bukan cuma diam sambil nunggu giliran ngomong. Mendengarkan itu benar-benar hadir. Walaupun cuma lewat telepon.
Gue mulai bisa dengerin nada suara ibu yang sedikit berubah kalau dia lagi capek. Gue bisa tahu kalau bapak lagi banyak pikiran dari cara dia ketawa. Hal-hal kecil yang dulu nggak pernah gue perhatiin.
Dan anehnya, ini juga bikin gue lebih siap kalau nanti punya anak sendiri. Karena gue sadar, anak itu butuh didengarkan, bukan cuma dikasih nasihat. Butuh ditemani, bukan cuma dibiayai.
Efek ke Hidup Gue di Perantauan
Mungkin kamu mikir, apa hubungannya telepon orang tua sama hidup gue sebagai mahasiswa? Ternyata banyak.
- Gue jadi lebih tenang. Ada semacam rasa aman kalau tahu kondisi orang tua gue baik. Nggak ada lagi pikiran "jangan-jangan ada apa-apa di rumah tapi gue nggak tahu".
- Gue lebih hemat. Aneh tapi bener. Karena sering cerita ke orang tua soal pengeluaran, gue jadi lebih sadar ngatur uang. Nggak mau bohong soal jajan kopi yang sebenarnya bisa dikurangi.
- Gue jadi lebih sabar. Dengerin cerita ibu soal tetangga yang panjang lebar itu ternyata latihan kesabaran. Efeknya kerasa waktu gue harus dengerin temen yang curhat atau dosen yang jelasin materi berulang-ulang.
- Gue mulai paham arti "keluarga". Bukan cuma orang yang ada di KTP. Tapi orang yang selalu ada, walau nggak selalu kelihatan.
Ada satu momen yang bikin gue hampir nangis. Sekitar hari ke-25, ibu bilang gini: "Nak, sejak kamu telepon tiap hari, ibu jadi semangat masak lagi. Soalnya ada yang bisa ibu ceritain soal resep baru."
Gue nggak nyangka hal sesederhana telepon 10 menit bisa berdampak sejauh itu.
Yang Mau Gue Bilang ke Kamu yang Lagi Merantau
Gue nggak mau sok menggurui. Gue juga masih belajar. Tapi kalau kamu lagi jauh dari rumah, coba deh lakuin hal yang sama. Telepon orang tua kamu. Nggak perlu lama. Nggak perlu topik berat. Cukup tanya kabar, dengerin cerita mereka, dan biarkan mereka tahu kalau kamu masih ada.
Karena pada akhirnya, hubungan keluarga itu bukan soal seberapa sering kamu pulang, tapi seberapa sering kamu hadir. Walaupun cuma lewat suara.
Sebulan ini ngajarin gue satu hal penting: jadi anak itu nggak ada masa pensiunnya. Sama kayak jadi orang tua nanti. Semuanya soal konsistensi kecil yang dilakukan terus-menerus.
Kalau kamu juga lagi coba memperbaiki hubungan sama orang tua dari jauh, gue cuma mau bilang: kamu nggak sendirian. Dan percayalah, sebulan itu cukup buat ngerasain bedanya.